Selasa, 15 September 2009 adalah hari yang dinanti penuh debar oleh 20 semifinalis Lomba Perancang Mode Femina Group 2009. Setelah berhasil terpilih dari 202 peserta dan menyisihkan 21 unggulan lainnya, maka tahap penjurian selanjutnya yang dilakukan hari itu adalah mempresentasikan konsep rancangan di depan dewan juri. Para semifinalis juga harus mewujudkan satu desain yang telah dipilih juri berdasarkan desain dan tingkat kerumitan pembuatannya.
Tidak mudah memang, mewujudkan sehelai busana siap pakai dari sebuah goresan sketsa semata. Namun tak bisa dipungkiri, para semifinalis berhasil mewujudkan karya desain mereka menjadi karya yang tidak hanya inovatif, namun juga mengundang decak kagum. Sepertinya, hanya di ajang ini bisa ditemukan kain songket Makassar sebagai gaun 2-in-1, kain sarung bergaya kimono, kain lurik model ponco, sampai modifikasi kain tenun Bali yang membawa kesan mewah pada busana yang diciptakan.
Dari busana yang dipamerkan, Dewan Juri yang terdiri atas Sebastian Gunawan (desainer), Petty S. Fatimah (Pemimpin Redaksi Femina/perwakilan Femina Group), Taruna K. Kusmayadi (desainer, Ketua APPMI), Ninuk Pambudy (redaktur senior Kompas) dan Timur Angin (fashion photographer) menilai hasil rancangan para semifinalis berdasarkan kreativitas, orisinalitas, daya pakai, dan daya jual.
Tidak hanya itu, masih ada lagi tambahan penilaian yang mesti dilewati oleh para semifinalis, yaitu penampilan wujud rancangan dan konsep rancangan itu sendiri ketika dikenakan oleh model.
“Berapa harga baju ini jika Anda akan menjualnya?” sudah menjadi pertanyaan wajib dari para juri. Pertanyaan seperti, “Sulitkah duduk dengan memakai busana ini?” juga sempat membuat semifinalis tergagap.
Mengingat tujuan lomba ini adalah membuat rancangan busana ready-to-wear, kenyamanan pemakai juga menjadi salah satu poin yang diperhatikan juri. Konsep ready-to-wear tersebut diterjemahkan para peserta menjadi day wear atau evening wear, dan aplikasi tiap busana menjadi sangat individual.
Setelah semua ketegangan ini berlalu, kini hanya tinggal menunggu waktu untuk munculnya 10 nama finalis pilihan Dewan Juri, yang sebelum penjurian final nanti juga akan mengikuti proses fitting bersama para juri desainer (Sebastian Gunawan dan Taruna K. Kusmayadi).
Setelah melalui diskusi yang panjang dan pelik, terpilihlah 10 Finalis LPM 2009 sebagai berikut:
- Albert Garry Yanuar, 24, Jakarta, ESMOD – Percampuran Budaya
- Bethania Agustha Tamsir, 19, Tangerang, ESMOD – Mood Swing
- Denise Kristi Trisna, 25, Jakarta, Susan Budihardjo; Abinieri Ang – Contradictive
- Elizabeth Myra Juliarti, 33, Jakarta, ESMOD – Culture Rocks!
- Galih Prakarsa, 19, Jakarta, Susan Budihardjo – Mahadewata
- Imelda Kartini, 23, Jakarta, ESMOD – Impossible-Possible
- Kursien Karzai, 29, Jakarta, Interstudy – Save The Forest
- Reviansyah Al Hamidi, 22, Jakarta, ESMOD – Papua Nugini’s Gold
- Vinora Ng, 20, Jakarta, ESMOD – Edito
- Vonny Chynthia Kirana, 22, Jakarta, ESMOD – Indonesian Beauty
Penjurian final dijadwalkan 19 November 2009, dalam rangkaian Jakarta Fashion Week yang berlangsung pada 14-20 November 2009.