Indonesia Fashion Forward



Program Indonesia Fashion Forward merupakan langkah nyata Jakarta Fashion Week untuk menjadikan mode Indonesia sebagai industri sejati yang kapabel menembus pasar internasional. Sebuah pekan mode sejatinya merupakan ajang yang tak hanya mampu menarik perhatian masyarakat umum dan media, namun merupakan kesempatan untuk para pelaku industri melihat peluang dan melakukan transaksi bisnis. Di dalamnya terjadi sinergi antara para desainer untuk membuktikan kreativitas, para media yang mewartakannya, serta para buyers yang akan menimbang apakah karya-karya yang ditampilkan memiliki potensi untuk menarik hati konsumennya.

Tantangan dalam mengadakan Jakarta Fashion Week adalah iklim mode nasional sendiri yang secara garis besar masih bersifat industri rumah tangga yang mengandalkan metode tradisional, dimana interaksi bisnis terjadi secara personal dari desainer ke masing-masing konsumen. Pesanan khusus menjadi standar praktik bisnis yang menyulitkan mode di Indonesia untuk berkembang menjadi industri besar terstruktur.

Keseriusan Jakarta Fashion Week dalam membangun industri mode lokal dibuktikan tak hanya dengan memfasilitasi panggung tempat para desainer untuk menunjukkan karyanya, namun dengan membuat program Indonesia Fashion Forward (IFF). Tak hanya sekadar menjadi sarana edukasi yang membekali para desainer dengan teori dan simulasi, IFF menggandeng partner-partner strategis baik dari pihak pemerintahan hingga internasional agar programnya dapat memiliki kesinambungan hingga praktik di lapangan.

Dukungan Badan Ekonomi Kreatif Indonesia adalah wujud nyata upaya menjadikan IFF sebagai program kreditabel yang dapat mewakili kreatifitas Indonesia di panggung dunia. Sedangkan keterlibatan British Council menjadi bukti itikad baik pihak internasional untuk bertukar budaya dan pengetahuan dari negara yang sudah terlebih dahulu memiliki struktur industri yang lebih mapan. Center for Fashion Enterprise (CFE) dari London turut diundang untuk memberikan bimbingan bagi para desainer terpilih agar dapat membangun bisnis yang lebih kompetitif serta berkembang dengan konsisten.

Pelatihan yang diberikan selama satu tahun penuh oleh para pakar ini meliputi perencanaan bisnis, branding strategy, pemasaran, penghitungan biaya produksi dan harga produk jadi, hingga aspek hukum. IFF juga memberi kesempatan para desainer untuk menampilkan karyanya di department store dan trade show terkemuka di luar negeri, selain tentunya menampilkannya di Jakarta Fashion Week dan program-program terafiliasinya.

Dalam waktu singkat, IFF juga telah membukukan berbagai prestasi hingga ke taraf internasional. Kesempatan untuk mengikuti berbagai agenda mode mancanegara tak disia-siakan para desainer untuk membuktikan kualitas karya yang dapat bersanding setara secara global. Sebuah generasi mode tanah air dengan wawasan mendunia telah lahir untuk menyikapi mode yang tak lagi sekadar ekspresi kreativitas pribadi semata, namun juga secara lebih menyeluruh sebagai sebuah industri yang memiliki potensi begitu besar. Generasi baru ini telah membuka pintu akan cakrawala baru mode Indonesia sehingga mereka tidak lagi hanya berkutat sebagai pemain lokal dan memiliki kapasitas untuk lokal dan memiliki kapasitas untuk bersaing secara global guna mewujudkan visi Indonesia sebagai salah satu pusat mode dunia dalam satu dekade ke depan.

IFF kini telah membimbing lebih dari 40 desainer tentang seluk-beluk bisnis mode hingga mereka memiliki bekal untuk menjadi pemain global. Proses seleksi meliputi berbagai kriteria yang tak hanya berfokus pada kreativitas dan talenta semata, namun juga kesiapan dan komitmen desainer secara manajerial dan finansial dalam menembus pasar internasional. Mereka harus memenuhi beberapa persyaratan seperti setidaknya telah konsisten mengeluarkan koleksi selama minimal dua musim. Dari segi bisnis mereka juga dituntut untuk memiliki tim kecil dan memiliki paling sedikit dua stockists dan pesanan khusus. Masing-masing desainer memiliki ciri khas tersendiri. Mereka terbagi dalam berbagai kategori untuk bersaing di pasar internasional seperti Modest Wear, Luxury Ready-To-Wear, Premium Ready-To-Wear, dan Quirky Ready-To-Wear.

Di tahun pertama, delapan desainer Generasi Pertama yang memelopori program ini adalah Albert Yanuar, Barli Asmara, Bretzel, Cotton Ink, Dian Pelangi, Jeffry Tan, Major Minor, dan Yosafat Dwi Kurniawan.

Tahun berikutnya, jumlah ini bertambah menjadi 12, memberikan lebih banyak keragaman akan latar belakang desainer yang bergabung. Maka tak mengherankan, nama-nama yang terseleksi sebagai Generasi Kedua turut menjadi gambaran akan dinamika mode Indonesia dengan pangsa pasar yang luas dan beragam. Mereka adalah Milcah, N.F.R.T, TOTON, Monday to Sunday, 8Eri (Eridani), NurZahra, Lianna G, Friederich Herman, Jenahara, Vinora, Tex Saverio dan Novita Yunus (Batik Chic).

Generasi Ketiga yang terpilih di tahun 2014, melibatkan Monstore, Sapto Djojokartiko, Peggy Hartanto, Patrick Owen, Rosallyn Citta, Billy Tjong, fBudi (Felicia Budi), Tertia (Tertia Enda), Restu Anggraini, Andhita Siswandi, Norma Moi (Norma Hauri) dan JII (Gloria Agatha).

Di tahun 2015, Generasi Keempat menambah deretan desainer yang menghiasi panggung IFF, yaitu Lekat, D’leia, Anthony Bachtiar, I.K.Y.K, Ria Miranda, ShopAtVelvet beserta label premiumnya ByVelvet, alex(a)lexa juga dengan label premiumnya SOE Jakarta, Sean & Sheila, Lotuz, dan Ellyhan.

Akhirnya, di tahun 2016, bibit-bibit fashion superstar baru di Generasi Kelima Indonesia Fashion Forward diperkenalkan dengan penuh kebanggaan. Mereka adalah B-Y-O (Tommy Ambiyo Tedji), Day and Night (Yelly Lumentu dan Konny Lumentu), Rani Hatta, BATEEQ (Michelle Tjokrosaputro), dan Paulina Katarina (Surya Paulina and Ratna Katarina).