News

Finalis LPM 2013

Wednesday, 11 Dec 2013

by JFW

Setelah melalui proses wawancara dan mewujudkan tiga rancangan untuk dinilai dalam Peragaan Semifinal Lomba Perancang Mode (LPM) 2013 di Jakarta Fashion Week 2014 pada 25 Oktober lalu, dewan juri yang terdiri atas Petty S. Fatimah (Ketua LPM Femina Group 2013, Chief Community Officer Femina), Musa Widyatmodjo (Perancang Busana, Pengusaha, Alumnus LPM Femina Group 1990), Ferry Sunarto (Perancang Busana, Pengusaha, Alumnus LPM Femina Group 1995), AmyWirabudi (Pengamat Mode), Glenn Prasetya (Fashion Photographer), Astrid Ariani Wijana (Senior Marketing Manager PT Mazda Motor Indonesia), Imelda Like Wahyu (Fashion Director PT Matahari Department Store, Tbk.) memutuskan 10 Finalis LPM Femina Group 2013 sebagai berikut:

1. Carla Handayani, 21, Surabaya
Twiganometric


Carla melihat, the swinging sixties sebagai dekade paling menggairahkan dalam sejarah mode. Keberanian mengeksplorasi warna, rok mini sebagai simbol kebebasan, serta shift dresses yang mendobrak aturan berbusana wanita secara tradisional merupakan awal dari revolusi mode. Model ternama Twiggy merupakan ikon fashion penting saat itu. Terinspirasi dari tren mode di era ’60-an, Carla menambahkan detail geometris yang membuat pemakainya bisa tampil beda dengan pakaian yang sama.





2. Christian Wohangara, 27, Tangerang

Urban Complex

Pergerakan kehidupan di perkotaan besar yang dinamis, dengan segala kompleksitas sisi kehidupan di dalamnya. Kompleksitas perkotaan itu mengilhami Christian untuk membuat kesatuan koleksi ready to wear yang mengutamakan kenyamanan daya pakai tanpa lupa menonjolkan pada visual look yang mampu mempresentasikan pribadi dan karakter pemakai. Penerapan sistem pecah pola 3 dimensi yang membentuk susunan tumpuk yang struktural  mencerminkan permasalahan yang terjadi di perkotaan besar serta bangunan-bangunan pencakar langit yang kian padat menumpuk rapi.



3. Diana Nathania, 22, Surabaya

The Peony
Sejak dinasti Sui and Tang di Cina, bunga Peony diasosiasikan dengan kesejahteraan, keberuntungan, dan kebangsawanan. Bunga Peony juga disebut dengan sebagai “bunga kemakmuran dan kehormatan”. Tapi, dalam tradisi tattoo Jepang, gambar bunga Peony digunakan sebagai tattoo untuk seorang samurai karena bermakna keberanian. Bunga ini digunakan sebagai tema oleh Diana karena merepresentasikan wanita mandiri masa kini yang cantik, berpendidikan, berperilaku baik layaknya seorang bangsawan, dan juga berani. Bunga ini hadir dalam motif print yang dikombinasikan dengan kain lurik dari Jawa Tengah yang melambangkan kesederhanaan.


4. Filda Nurina, 21, Jakarta
City Skyline

Terinspirasi dari garis desain arsitektur gedung-gedung di tengah kota yang bertemu dengan langit biru, desain busana koleksi ini mempunyai skema warna biru tua, hijau muda, dan abu-abu muda. Siluet yang digunakan berkesan rapi dan minimalis, sehingga pakaian ini bisa dipakai dengan nyaman. Sesuai dengan konsep koleksi ini, dimana setiap baju dapat dipadu padankan dengan satu sama lain untuk menciptakan berbagai gaya yang dapat dipakai sebagai busana sehari-hari.
 




5. Gina Levina, 23, Bogor

Summer Awakening

Inspirasi koleksi ini adalah memori dari perjalanan di akhir musim panas yang hangat. Perancang memang menginginkan konsep pakaian yang cenderung ringan, nyaman dan menenangkan. Konsep ini tercermin lewat pemilihan kain dan warna, serta pengembangan desainnya. Material kain yang dipilih adalah silk organdy, Japanese linen, linen blends, katun, dan pinstripes shirting. Sedangkan, dalam pemilihan warna cenderung mengarah ke warna pastel yang menyejukkan seperti seafoam green, mint, putih, dan biru langit.
                                                                             


6. Naomi Annastasia Teguh Putri, 23, Jakarta

Adorn


Potongan yang sleek menghadirkan busana yang memadukan simplicity dan sophistication. Setiap busana dirancang untuk menghadirkan fungsi dan keunikan untuk mengakomodir kebutuhan wanita untuk tampil stylist dan prima sepanjang hari. Untuk mewujudkan desainnya, Naomi memilih beragam jenis bahan, mulai dari yang ringan seperti satin hingga yang lebih berat seperti polyester.






7. Natalia Kiantoro, 23, Surabaya

Jadis

Koleksi ini terinspirasi oleh kristal es, glacier, gunung, dan stalaktit es. Es diinterpretasikan sebagai sesuatu yang dingin, kaku, kuat, tangguh, indah untuk dipandang. Dibalik itu semua, di suatu titik, es bisa juga mencair atau meleleh. Konsep inilah yang menjadi dasar koleksi ini, yang merupakan penggabungan antara sifat yang keras dan lunak, diinterpretasikan dalam bentuk cutting lines dan siluet. Sisi fungsional dari koleksi ini bisa dilihat dari adanya garmen-garmen yang bisa dibongkar pasang dan mix and match. Selain itu, ada juga beberapa desain yang sesuai untuk dipakai siang sampai malam hari.


8. Shahnaz Soraya, 25, Jakarta

Minimalism Ethnic

Konsep desain pada koleksi ini adalah menggabungkan etnik motif Indonesia dengan teknik moulage dan asimetris desain, untuk mewujudkan desain yang simpel, stylish, dan dapat dipakai dalam segala kesempatan. Terinsiprasi dari interior desain, seperti tangga yang membentuk lipatan–lipatan dan furniture kontemporer yang memiliki lekukan-lekukan, dimana semua itu dituangkan dalam teknik lipatan–lipatan (moulage) asimetris yang kemudian dibuat dalam flat pattern sehingga desain yang sudah dibuat dengan teknik moulage ini dapat dibuat dengan beberapa pilihan ukuran.                                                                                  


9. Theresa Debby, 21, Jakarta

Chromatic Contoured


Konsep desain ini adalah two-tone contrasts dengan potongan kontemporer. Terpengaruh gaya hidup yang terinspirasi keglamoran, kemakmuran, dan elegansi era ’50-an, hadir desain busana dengan garis geometris, movement cutting, dan terkadang bervolume yang ditransformasikan ke dalam ekspresi sophistication. Garis maskulin yang tegas dan lekuk feminine yang lembut dalam two-tone contrasts dimaksudkan untuk merepresentasikan kecantikan ideal dari tubuh wanita.




10.  Yelly Lumentu, 27, Jakarta

Disappear Twin


Yelly banyak ‘membedah’ pola busana pada koleksinya ini. Misalnya, pola dasar lengan dan celana ia rekonstruksi dan dekonstruksi menjadi pola dress. Tak hanya itu, ia juga membalik pola dasar badan belakang menjadi detail badan depan dan juga membalik fungsi atasan menjadi rok. Konsep twin hadir pada beberapa busana dengan pola dasar kembar untuk badan depan dan belakang. Dengan karakter clean cut detail, hadir busana minimalis yang merepresentasikan keberanian untuk tampil beda.

Popular News