News

Teori Keindahan Lulu Lutfi Labibi

Wednesday, 10 Jul 2013

by JFW

Fashion tak lagi terbatas untuk mereka yang berkecimpung di dunia mode. Wanita dari berbagai profesi kini makin haus gaya dan terus berlomba-lomba untuk tampil beda. Hal ini disambut dengan tangan terbuka oleh Lulu Lutfi Labibi (30), desainer asal Yogyakarta, pemenang pertama Lomba Perancang Mode (LPM) 2011. “Orang  makin berani bereksperimen dalam fashion. Sebagai desainer, saya jadi lebih bebas berekspresi dan berkreativitas,” ujarnya.
 
Kejutan Manis
Melihat busana rancangan Lulu yang malang-melintang di panggung catwalk dan terpampang di majalah-majalah mode, satu kata yang melintas di benak: berani! Bukan berani karena potongannya seksi menantang, melainkan berani keluar dari garis-garis pola yang biasanya cenderung mengungkung. “Saya jarang merancang dengan pola. Saya lebih memilih teknik draping, di mana kain dapat dililit, ditumpuk, atau diikat dengan cantik,” katanya.

Karya Lulu memang seakan terlihat ‘hidup’ dengan imajinasi pemakainya. Baik itu dress, celana, jaket, semuanya terlihat tak sederhana. “Keuntungan dari teknik draping, pemakai baju saya bisa berkreasi sendiri dengan pakaiannya. Ikat sana, ikat sini, atau tambahkan belt atau aksesori lain. Kemungkinan untuk mix and match banyak sekali, jadi tidak akan membosankan,” ujar Lulu.

Pelanggan Lulu, yang kebanyakan adalah wanita remaja dan bekerja, boleh dibilang memengaruhi sekaligus menginspirasi Lulu untuk menghadirkan busana ready to wear yang modelnya tidak pasaran. Menurut Lulu, banyak dari mereka yang mengeluh bosan dengan baju-baju desainer yang sudah naik daun. “Ketika sebuah label sudah dipakai sejuta umat,  pemakainya tak lagi merasa unik dan istimewa. Saya tidak ingin pemakai label saya merasa seperti itu,” kata Lulu, mantap.

Masukan dari pelanggan ini ia dapatkan dari interaksi yang terjalin di antara mereka di media sosial. “Saya tidak malu berjualan di Facebook. Toh, saya tetap melakukan konsultasi dan transaksi secara privat, tidak diumbar di depan umum. Mereka sudah mengerti etikanya,” ungkap Lulu. Sering kali, mereka mem-post foto sedang mengenakan busana Lulu di tempat kerja atau di acara-acara sosial. Menurut Lulu, foto-foto kiriman ini menjadi bukti bahwa orang ‘biasa’ pun bisa tampil keren bagai model.

Ia juga tak bisa memungkiri, bahwa sebagian besar penjualan bajunya terjadi di Facebook, bukan di butik miliknya yang berlokasi di Kelapa Gading, Jakarta. Apalagi, pelanggannya kini sudah sampai ke luar ibu kota. “Saya juga mengerti bahwa orang  makin tidak punya waktu pergi berbelanja, apalagi sampai khusus pergi ke butik. Saya juga harus bisa mengakomodasi kebutuhan mereka yang bekerja 9 to 5,” ujarnya, maklum.

Meski awalnya tidak berniat untuk menargetkan pasar busana muslim, Lulu mengamati, bahwa 55% dari pemakai labelnya adalah mereka yang berbusana muslim. Mungkin, karena baju-baju Lulu sebagian besar all size, cenderung longgar, dan cocok untuk dilapis. “Bahkan, baju yang potongannya terbuka pun bisa mereka akali dengan baju dalaman sendiri. Kreativitas mereka adalah kejutan manis buat saya sebagai desainer,” ujarnya, senang.

Lulu mengakui, dirinya belum punya banyak ilmu dan pengalaman soal bisnis. Untuk mengatur strategi pengembangan usaha, Lulu menyerahkannya kepada orang lain, supaya ia dapat berkonsentrasi pada aspek kreatif saja. “Saya terlahir dari keluarga seniman, jadi tidak ada ‘darah’ pengusaha,” katanya, tertawa.
 
Filosofi Wabi-sabi

Kemenangan Lulu di ajang LPM 2011 bukan rezeki yang datang begitu saja, melainkan hasil persiapan bertahun-tahun. Ia bercerita tentang bagaimana ia sampai memutuskan untuk menjadi desainer. “Selulus kuliah, saya tak lagi dibiayai ibu saya yang berprofesi sebagai guru. Ayah saya sudah meninggal. Saya harus memutar otak, bagaimana caranya mencari nafkah,” kenangnya.

Dengan bakatnya menggambar, jalan pun terbuka lebar. Lomba demi lomba ia ikuti dan menangkan. Tapi, saat itu ada satu tekad bulat di hatinya. Setidaknya sekali dalam kariernya sebagai desainer, ia harus bisa lolos seleksi dan memenangkan LPM. “Boleh dibilang, sejak tahun 2006 saya mengikuti berbagai perlombaan mode di ibu kota, demi mempersiapkan diri untuk mengikuti LPM. Akhirnya saya baru merasa punya konsep mantap pada  tahun 2011,” tuturnya.
           
Sebagai juara pertama, Lulu mendapatkan beasiswa untuk belajar di The Fashion Institute of Design & Merchandising, Los Angeles, selama tiga bulan, dan uang tunai sebesar  4.000 dolar AS. Namun, buat Lulu, mengikuti berbagai lomba mode di ibu kota merupakan strategi untuk membangun nama, bukan semata mengincar hadiah. “Mengumpulkan modal, sudah pasti. Tapi, yang paling penting adalah membuat orang familiar dengan karya-karya saya. Tidak mungkin melempar desain spektakuler yang menjangkau banyak orang, kalau saya belum dikenal.”

Bicara soal desain spektakuler, bagi mereka yang lebih menyukai kesederhanaan, mungkin rancangan Lulu terkesan rumit. Namun, ada keindahan tersendiri yang ingin ia tampilkan di sini; sesuatu yang ia ambil dari sebuah filosofi Jepang. “Saya terinspirasi wabi-sabi, atau teori keindahan dari ketidakteraturan. Menurut saya, ada yang estetis dari sesuatu yang tidak sempurna,” kata lulusan D-3 Jurusan Kriya Tekstil Institut Seni Indonesia, Yogyakarta, ini.
           
Selain itu, ada satu kesempurnaan yang dikejar Lulu. “Saya memilih kain-kain dari para perajin yang terbaik untuk bahan rancangan saya,” ujarnya. Ia mengaku, kecintaannya pada batik, lurik, dan tenun membuatnya tergugah untuk mengangkat kelas kain-kain tradisional ini. “Kain tradisional juga bisa jadi high fashion. Ini yang ingin saya buktikan melalui label Lulu Lutfi Labibi,” kata pria kelahiran Banyumas ini, mantap.
           
Di LPM 2011, Lulu menggabungkan batik kontemporer, lurik Yogyakarta, sarung goyor Klaten, dan tenun ikat Jepara. Sementara, di ajang Jakarta Fashion Week 2013 yang digelar awal November lalu, Lulu menghadirkan sesuatu yang berbeda, yaitu batik Belanda, yang merupakan motif-motif batik yang dipakai orang Belanda di Indonesia pada zaman kolonial. Batik Belanda ini dipengaruhi kultur Eropa, misalnya dongeng Si Kerudung Merah dan Serigala.

Dalam show yang berjudul Revival of Batik Belanda itu, Lulu menghadirkan 24 koleksi yang ia beri tema Shade in Culture, antara lain dalam bentuk rompi lilit lurik, tube dress lilit, bolero, dan kimono. “Warna batik Belanda cenderung cerah dan didominasi warna pastel. Kali ini saya coba mengontraskannya dengan latar hitam. Saya juga memadukannya dengan kain asli Indonesia, yang ternyata serasi untuk dipadu-padan dengan kain lain,” kata Lulu.
          
Meski ia banyak terinspirasi dari desainer-desainer ternama luar negeri, seperti Dries Van Noten, kain tradisional punya tempat istimewa di hati Lulu. “Untuk garis desain, saya memang terpengaruh desainer luar negeri. Tapi, untuk material, saya tetap cinta Indonesia,” ujarnya.
 
Layaknya pencinta kain sejati, ia mengaku gemas melihat bagaimana  apresiasi terhadap kain-kain tradisional Indonesia masih kurang, terutama di pasar internasional. Menurutnya, apresiasi luar negeri terhadap kain batik atau tenun Indonesia baru sebatas motifnya saja. Belum sampai pada filosofi atau proses pembuatannya yang memerlukan skill tinggi dan waktu yang cukup lama. “Edukasi soal ini masih menjadi pe-er besar bagi desainer Indonesia.”
 
PRIMARITA S. SMITA
Majalah Femina Edisi 46/2012

Popular News