News

Prestasi Angkatan Perdana Indonesia Fashion Forward Mempelopori Kebangkitan Mode Desainer Muda

Monday, 1 Feb 2016

by JFW

Program Indonesia Fashion Forward merupakan hasil kolaborasi antara Jakarta Fashion Week dengan British Council yang sudah berlangsung sejak 2010. Program ini memiliki target untuk menjadikan Jakarta sebagai salah satu acuan dunia mode per tahun 2025 yang akan datang. Tak hanya mengangkat derajat desainer Indonesia di mata dunia, program ini bertekad membangun industri mode yang mampu menampung lebih banyak tenaga kerja dan menghasilkan produk yang lebih berkualitas melalui proses yang lebih profesional. 
 

Angkatan Pertama Indonesia Fashion Forward dipamerkan di ajang Jakarta Fashion Week yang berlangsung di tahun 2012, terdiri atas delapan desainer lokal berbakat yang dikurasi langsung oleh British Council dan Jakarta Fashion Week. Di antara ke delapan desainer itu adalah Albert Yanuar, Jeffry Tan, Yosafat Dwi Kurniawan, Cotton Ink, Dian Pelangi, dan Major Minor. 
 

Albert Yanuar adalah jawara LPM Fashion Entrepreneur Award tahun 2011. Berkarya sejak 2005, Albert Yanuar sudah kerap melangkahkan kaki di panggung internasional, termasuk salah satunya Seoul Fashion Week 2014. Di angkatan yang sama, Jeffry Tan, yang merupakan Desainer Mode Terbaik 2002/2005 ESMOD School of Design Perancis, dikenal sebagai desainer yang juga piawai dalam meramu aura maskulin ke dalam pakaian wanita karena pengalamannya dalam bidang desain pakaian pria. 
 

Seorang perfeksionis dan pecinta kampung halaman, Yosafat Dwi Kurniawan, telah melangkah jauh dari rumah masa kecilnya di Pekalongan, Jawa Tengah. Minatnya terhadap arsitektur mengilhami garis desainnya yang pernah melenggang di China Beijing Fashion Week A/W 2009 Showing Collection?Pre Fall 2012 dengan tema "Dichotomy". Desain dengan konstruksi yang ketat namun tetap halus ketika dikenakan dan penggunaan kain dikembangkan sendiri dengan bantuan dari perajin kain asal kampung halamannya menjadi ciri khasnya. 


Dikenal sebagai angkatan pelopor, dua desainer muda ini tidak mengecewakan reputasi mereka. Dian Pelangi dikenal sebagai pelopor busana muslim modern yang trennya masih belum padam sampai sekarang. Merek Dian Pelangi bermula dari bisnis tekstil orangtuanya, yang kemudian dikembangkan Dian menjadi bisnis mode yang sukses menaungi tujuh lini busana yang kini bahkan memiliki store di Malaysia. Interpretasinya dalam busana Muslim atau yang sekarang lebih dikenal dengan modest-wearmendobrak kekakuan yang umum diidentikan dengan kaum hijabi, dengan menghadirkan warna-warna terang, corak kaya, serta teknik layering yang trendi. 


Sedangkan Cotton Ink yang didirikan di tahun 2008 oleh dua sekawan Carline Darjanto dan Ria Sarwono, mempopulerkankan strategi sederhana di bidang e-commerce yang kala itu belum sepopuler sekarang. Langkah pengembangkan toko di ranah maya tanpa membuka tempat penjualan yang nyata ini memudahkan penjajakan pasar untuk mereka dengan modal yang terjangkau. Tak lama kemudian, salah satu produk Most Innovative Local Brand - Cleo Fashion Awards (2010) ini, yaitu syal multifungsi, meledak di pasaran.


Mengimbangi pasar mode yang semakin mengarah ke kaum young urban, Ari Seputra yang telah aktif di dunia mode Indonesia selama 26 tahun, meluncurkan Major Minor bersama istrinya, Sari Seputra, dan dua desainer muda Inneke Margarethe dan Ambar Pratiwi. Dengan desain potongan asimetris beralaskan palet urban, Major Minor telah menyelenggarakan show di Paris dan Tokyo Fashion Week, serta memajang koleksinya di department store ternama Isetan Singapore dan Harvey Nichols UK. 


Penulis: Zea Zabrizkie