News

Denny Wirawan, Jeffry Tan, dan Lulu Lutfi Labibi Akui Lomba Perancang Mode Bukan Kompetisi Sembarangan

Thursday, 28 Oct 2021

by JFW

Lewat sambungan video call, saya berbincang dengan Denny Wirawan, desainer senior yang telah puluhan tahun melanglang buana di industri fashion Indonesia. Dalam balutan pakaian serba putih dan kacamata berbingkai hitam yang selalu terlihat melengkapi tampilannya, ia menceritakan awal mula perjalanan kariernya sebagai desainer fashion.

Ia menyenangi fashion karena banyak mengonsumsi majalah perempuan milik sang ibu. Dari sekadar melihat-lihat, Denny yang saat itu masih sekolah dasar mulai membuat sketsa pakaian sederhana meniru desain yang ia lihat di majalah-majalah tersebut. “Namanya juga anak SD, hahaha,” katanya.

Sejak saat itu pula ia mengenal Lomba Perancang Mode (LPM). Tahun demi tahun, ia terus mengikuti setiap edisi LPM. “Saya ingat betul koleksi Bung Samuel Watimena, temanya ‘Sekaten’ kalau tidak salah,” kenangnya tentang salah satu koleksi yang begitu membekas baginya. 

Perhatian Denny terhadap LPM seiring waktu tumbuh menjadi impian. “Akhirnya saya baru ikut setelah lulus SMA. Selama itu LPM selalu jadi goal saya. Harus ikut, enggak tahu gimana caranya,” ujar Denny.

Ketika ia pertama kali mengikuti LPM pada 1991, kompetisi itu sudah dikenal melahirkan desainer-desainer top Indonesia. Maka bagi Denny muda dulu, LPM adalah kunci untuk menjadi desainer sukses. “Mungkin juga dulu pikiranku sempit, kalau mau sukses mesti ikut lomba dulu, hahaha...” katanya setengah berseloroh.

Toh hari ini pandangannya tidak berubah. Pengalamannya mengikuti dan kemudian memenangkan kompetisi tersebut justru membentuk perspektif yang lebih dalam tentangnya. “LPM itu ajang tolok ukur kemampuan kita sebagai seorang desainer. [Di sana] semacam ujian dan respons industri sekarang,” jelasnya.

Pandangan serupa juga dianut Lulu Lutfi Labibi dan Jeffry Tan, dua desainer papan atas alumnus LPM yang lain. Rajin mengikuti berbagai kompetisi sejak 2006, di mata Lulu LPM bukanlah kompetisi sembarangan. 

Lulu mengenal LPM pada 2008, tapi ia tidak lantas mendaftarkan diri. Bukan karena tak tertarik, melainkan merasa diri belum siap. “Saya melihat desainer-desainer besar di zaman itu, seperti Priyo Oktaviano itu juga pernah ikut LPM. Maka aku ingin juga merasakan keberuntungan itu,” kata Lulu lewat sambungan telepon.

Desainer kelahiran Banyumas itu membutuhkan tiga tahun untuk menyiapkan diri mengikuti LPM. Selama tiga tahun ia mengasah dan mempertajam karakter desainnya. Berdasarkan hasil pengamatannya menunjukkan para pemenang LPM adalah desainer dengan karakter yang kuat. “Baik itu dari segi desain, maupun kedalaman bercerita,” jelasnya.

Pada 2011 akhirnya Lulu memutuskan ia sudah cukup siap untuk mengikuti LPM. Koleksinya saat itu menggunakan material lurik. “Zaman itu lurik belum dipandang oleh banyak orang. Waktu itu juga saya merasa cukup siap dengan desain baru.”

Desain baru yang ia maksud adalah teknik draping yang pada akhirnya melekat dengan brand Lulu hingga saat ini. “Ketika itu saya merasa teknik ini lumayan baru untuk orang-orang kita,” lanjutnya lagi. Meski demikian rasa percaya diri yang kerap ia rasakan saat mengikuti lomba-lomba lain, tak ia rasakan saat mengikuti LPM. 

Kualitas peserta lain serta ketatnya penilaian membuatnya sempat tak yakin akan keluar sebagai pemenang pertama LPM tahun itu. Benar rasanya LPM dibilang sebagai salah satu pintu gerbang masuk ke industri fashion. 

“[Memang] juara itu bukan catatan bahwa kamu akan sukses, tapi bahwa kemenanganku adalah kunci yang membawa karierku sampai hari ini benar-benar aku rasakan,” kata Lulu tegas. 

Ia mengingat betul bagaimana LPM yang dinaungi grup media perempuan terbesar di Indonesia memberikan kesempatan untuk memperkenalkan koleksinya kepada khalayak yang lebih luas. “Dari kemenangan itu kemudian banyak majalah yang menggunakan rancanganku untuk fashion spread. Itu salah satu titik baliknya. Mungkin itu langkah awal yang membawaku sekarang ke titik ini.”

Hal ini juga diamini Jeffry Tan yang merupakan alumnus LPM 2005. Ia bercerita bagaimana saat itu ia mulai tereskpos industri fashion Indonesia dan memintal jaringan profesionalnya. “Jadi kenal dengan editor majalah, dan orang-orang kreatif lainnya. Kemudian ada JFW dan semuanya jadi mengalir,” jelasnya.

Belasan tahun setelah kelulusannya dari LPM, Jeffry masih melihat kompetisi ini relevan. Terlepas dari perubahan ekosistem yang signifikan karena perkembangan teknologi dan media sosial. “Misi LPM itu baik untuk nurturing young talent dengan background yang berbeda dan memberikan platform buat mereka,” katanya.

Hasil akhirnya bukan urusan utama. Pada akhirnya menurut Jeffry, LPM adalah wadah untuk desainer-desainer muda belajar dan mendapatkan perspektif baru tentang industri yang akan digelutinya. “Baik dari segi pengembangan desain, [membangun] karakter brand, sampai bisnisnya sendiri. LPM adalah salah satu platform lomba yang memberikan banyak perspektif dan inspirasi.”