Menyulam Cerita Asia Tenggara lewat Tiga Perspektif Couture di JFW 2026

Bayangkan sebuah runway yang dalam hitungan menit berpindah dari lanskap futuristik Filipina, menuju dunia surealis Singapura, lalu berakhir di tengah rimba tropis Malaysia. Itulah salah satu perjalanan visual yang hadir di Jakarta Fashion Week 2026, ketika Francis Libiran, Frederick Lee, dan Rizman Ruzaini mempertemukan tiga interpretasi berbeda tentang adibusana Asia Tenggara di satu panggung.

Ketiganya merupakan desainer ASEAN di JFW 2026 yang hadir melalui ASEAN Fashion Parade, sebuah pertemuan kreatif yang memperlihatkan bagaimana mode dapat menjadi ruang untuk merayakan identitas, tradisi, serta gagasan kreatif dari berbagai kawasan. Mari kembali menelusuri tiga koleksi yang membawa karakter Filipina, Singapura, dan Malaysia ke runway Jakarta.

Francis Libiran

Koleksi 'Visions: A Pop Culture Couture Collection' dari Francis Libiran

Perjalanan dimulai dari Filipina bersama Francis Libiran melalui ‘Visions: A Pop Culture Couture Collection’. Dikenal lewat rancangan yang memadukan struktur arsitektural dengan detail dekoratif, Francis membawa pendekatan futuristik ke runway JFW 2026 melalui palet biru dan perak. Siluet berstruktur, ornamen berkilau, serta teknik anyaman berhasil mengawinkan impresi modern dan sentuhan organik.

Hasilnya? Rangkaian busana yang terasa seperti objek sculptural yang bergerak di bawah cahaya runway. Dengan permainan bentuk dan material, Francis membangun dunia adibusana yang dramatis.

Frederick Lee

Karya Frederick Lee untuk JFW 2026

Dari Filipina, perjalanan visual berlanjut ke Singapura bersama Frederick Lee. Desainer adibusana yang dikenal dengan pendekatan teatrikal ini membawa cerita tentang tanah kelahirannya melalui gaun-gaun bersiluet menjulang, teknik beading nan rumit, serta detail bulu dan bentuk menyerupai ranting pohon. Sosok buaya turut muncul sebagai motif, merujuk pada fauna yang lekat dengan Singapura sekaligus legenda Sang Nila Utama.

Perpaduan simbol, tekstur, dan volume tersebut menciptakan dunia yang nyaris surealis. Alih-alih menerjemahkan identitas Singapura secara harfiah, Lee membiarkan elemen-elemen tersebut berbicara melalui bahasa adibusana yang penuh fantasi.

Rizman Ruzaini

Koleksi 'Rimba' dari Rizman Ruzaini

Sebagai penutup, Rizman Ruzaini membawa ‘Rimba’ ke runway JFW 2026. Didirikan oleh Rizman Nordin dan Ruzaini Jamil, label asal Malaysia ini dikenal dengan koleksi adibusana yang kaya detail dan siluet tailoring. Kali ini, hutan hujan Asia Tenggara menjadi sumber inspirasi, diterjemahkan melalui palet hijau pekat, cokelat tanah, dan emas.

Bordir, manik, dan payet membentuk gambaran flora serta fauna tropis, seolah memindahkan jejak rimba ke atas permukaan busana. Di tangan Rizman Ruzaini, kemewahan adibusana berpadu dengan karakter organik alam, menghasilkan koleksi yang terasa megah sekaligus misterius.

Tiga desainer ASEAN di JFW 2026 tersebut membawa representasi yang berbeda-beda terhadap konsep adibusana. Tiga pendekatan, tiga cerita, dan tiga identitas yang bervariasi akhirnya bertemu di satu lanskap. Momen tersebut menjadi gambaran tentang luasnya spektrum mode Asia Tenggara dewasa ini.

Dan mungkin, di situlah letak daya tariknya: ketika batas geografis menjadi semakin samar di atas runway, setiap desainer tetap membawa sepotong rumahnya masing-masing.