10 Finalis LPA 2026 Resmi Ditetapkan: Menuju Jakarta Fashion Week 2027

Lomba Perancang Aksesori (LPA) 2026 telah menyelesaikan tahap penjurian final menuju Jakarta Fashion Week 2027. Setelah melalui seleksi dari 109 aplikasi dan babak semifinal, para perancang terpilih kini bersiap mengembangkan karya mereka untuk ditampilkan di panggung JFW 2027 pada Oktober 2026 mendatang.

Mengangkat tema “Future Archive”, LPA 2026 mengajak peserta meninjau kembali arketipe aksesori dan membayangkan bagaimana rupa, fungsi, serta maknanya dapat berkembang di masa kini dan mendatang. Gagasan tersebut menghasilkan pendekatan yang beragam, dari kerajinan tradisional dan material sisa hingga penggunaan teknologi dan konstruksi eksperimental.

Dalam penjurian final LPA 2026, eksplorasi teknik dan material, serta kekuatan konsep merupakan tiga atribut utama dalam penilaian panel juri yang  terdiri dari Rinaldy Yunardi, Galuh Anindita, Yonatan Digo Permadi, Akib Aryo Utomo, Lisa Malonda, dan Yuni Jie.

Inilah para finalis yang akan melanjutkan perjalanan mereka menuju Jakarta Fashion Week 2027.

Viony Oktavia: “The Theatre: Act No. 1”

Viony Oktavia menempatkan aksesori sebagai objek yang dapat menjadi daya pikat utama sebuah tampilan melalui “The Theatre: Act no.1”. Setiap karya dirancang agar dapat dilepas dari bentuk utuhnya menjadi bagian-bagian yang dikenakan pada tubuh. Denim, jacquard, tulle, dan organza dipadukan dengan sulaman yang dikembangkan dari sketsa tangan untuk memperkuat karakter keseluruhan tampilan.

“The Theatre: Act No. 1” Karya Viony Oktavia

Tiffany A. Djohan: “Silhouette”

Dua pendekatan material dipertemukan oleh Tiffany A. Djohan dalam “Silhouette”. Ia mengkreasikan sebongkah kayu secara manual dengan teknik bakar untuk menghasilkan permukaan yang terkesan usang. Sementara, logam diolah secara presisi tinggi menggunakan teknologi CAD. Komponen logam yang lazim ditemukan pada furnitur turut diaplikasikan pada koleksi, memperkuat karakter arsitektural yang dibangun Tiffany.

“Silhouette” Karya Tiffany A. Djohan

Sekar Asmarandhana: “Corpus Relics”

“Corpus Relics” berangkat dari imajinasi Sekar Asmarandhana tentang perubahan iklim ekstrem yang menuntut manusia untuk beradaptasi. Aksesori dikembangkan sebagai perangkat untuk bertahan hidup. Mulai dari pelindung wajah dan sabuk berkantong hingga penopang punggung yang mengambil referensi dari struktur tulang belakang. Kulit dan denim menjadi material utama dalam membangun rangkaian objek tersebut.

“Corpus Relics” Karya Sekar Asmarandhana

Azmi Aminullah: “Umbra Vitae”

Kehidupan lumut Marchantia polymorpha menjadi referensi bagi Azmi Aminullah dalam mengembangkan “Umbra Vitae”, sebuah koleksi yang mengawinkan struktur jaringan, percabangan, dan pola pertumbuhan. Ketiganya diterjemahkan oleh Azmi secara abstrak menjadi aksesori berwujud biomorfik. Koleksi ini terwujud berkat fondasi dan perpaduan antara logam kuningan dan tembaga yang diolah melalui teknik tempa dan solder, sebelum disusun secara modular menyerupai organisme yang terus berkembang.

“Umbra Vitae” Karya Azmi Aminullah

Nurul Aulia Sari:  “Roodkapje”

Nurul Aulia Sari menelusuri kembali Batik Belanda melalui motif Roodkapje atau Si Tudung Merah yang pernah berkembang dalam batik pesisir Jawa. Dalam koleksinya, elemen seperti bunga buketan, burung, dan kupu-kupu berpindah ke medium keramik yang dipadukan dengan logam dan kain. Setiap elemen dibentuk dan dilukis secara manual sebelum melalui proses pengglasiran dan pembakaran.

“Roodkapje” Karya Nurul Aulia Sari

Farina Antari: “SAV[ELING].1”

Nama “SAV[ELING].1” mempertemukan kata save, yang berarti menyimpan, dengan eling, atau mengingat, dalam bahasa Jawa. Farina Antari menggunakannya untuk membahas ingatan terhadap perhiasan tradisional, khususnya perhiasan pernikahan Jawa yang menjadi bagian dari warisan keluarganya. Teknik casting kemudian ditafsirkan kembali dengan menggunakan resin yang dituangkan ke dalam cetakan berisi fragmen perhiasan tradisional.

“SAV[ELING].1” Karya Farina Antari

Maryam Muthmainnah: “Dalam Diriku”

Puisi “Dalam Diriku” karya Sapardi Djoko Damono menjadi titik awal bagi Maryam Muthmainnah dalam membayangkan aksesori sebagai penyimpan identitas manusia di masa depan. Rangkaian koleksi yang terdiri dari cincin, bodypiece, neckpiece, dan headpiece dikembangkan sebagai wujud eksperimen yang terinspirasi oleh aliran darah, jaringan saraf, struktur, serta gerak tubuh. Logam kuningan diolah melalui teknik solder, bending, forming, dan patina untuk menghasilkan konstruksi yang struktural dan dimensional.

“Dalam Diriku” Karya Maryam Muthmainnah

Ancilla Bianca: “Morpha Natura”

Dalam “Morpha Natura”, Ancilla Bianca mengembangkan bentuk tumbuhan dan pola alami pada hewan menjadi aksesori dengan garis melengkung, struktur biomorfik, dan tekstur berlapis. Limbah perca kulit menjadi material utama sebagai gambaran bahwa jejak alam dapat berevolusi dan kelak akan diingat sebagai artefak visual dari masa lalu.

“Morpha Natura” Karya Ancilla Bianca

Deajay Nabila Bellvarosa: “Menjelma”

Deajay Nabila Bellvarosa mengambil inspirasi dari cahaya bintang yang membutuhkan waktu untuk sampai dan terlihat dari Bumi. Gagasan mengenai harapan dan perjalanan waktu tersebut diwujudkan dengan mengolah karung paket, kain sisa produksi, serta tutup botol minuman. Material tersebut dikerjakan melalui teknik kepang dan anyaman, sementara tutup botol dilelehkan menjadi manik-manik organik. Teknik kristik dengan potongan kain perca turut membentuk tekstur pada permukaan karya.

“Menjelma” Karya Deajay Nabila Bellvarosa

Anggi Putra Arsa:  “Tak Jera”

“Tak Jera” menerjemahkan perjalanan personal Anggi Putra Arsa melalui dua simbol: kumbang tanduk dan bunga kenanga. Metamorfosis kumbang menjadi representasi proses bertumbuh menjadi semakin kuat, sementara kenanga membawa gagasan tentang ketahanan. Anggi mengolah keduanya menggunakan batik dengan pewarna alami dan teknologi mekanik sederhana yang memungkinkan bagian yang menyerupai sayap kumbang bergerak.

“Tak Jera” Karya Anggi Putra Arsa

Seluruh finalis selanjutnya akan mengembangkan koleksi mereka untuk ditampilkan di Jakarta Fashion Week 2027 pada Oktober 2026 mendatang. Penjurian final LPA 2026 turut didukung oleh Yellowfit Kitchen x Mr Isshi dan Flash Coffee.

Di akhir kompetisi, juara pertama LPA 2026 akan mendapatkan kesempatan mengikuti kursus singkat di POLIMODA, institusi mode ternama di Firenze, Italia.