DEWI Presents: Next is Now Hadirkan Eksplorasi Lintas Waktu dan Ruang Kreatif di JFW 2027

Panggung Jakarta Fashion Week 2027 kembali memancarkan daya pikatnya melalui persembahan istimewa bertajuk “DEWI Presents: Next is Now”. Peragaan busana ini menampilkan empat label terkemuka: Cover Me Not, Hotel, Lanivatti, dan PEAU. Keempat jenama ini merajut narasi kolektif yang merayakan kebebasan berekspresi, warisan budaya lintas benua, hingga inovasi mode yang berkelanjutan di atas panggung peragaan. 

Hotel Mengusung "Nomatic" dan Seni Keindahan Pakaian lama

Koleksi 'Nomatic' dari Hotel

Label Hotel menyuguhkan koleksi bertajuk “Nomatic”, sebuah frasa yang mengartikan “Not Romantic“ sebagai perayaan atas gagasan bahwa tidak segala hal dalam hidup harus selalu tampak romantis. Selaras dengan DNA streetwear miliknya, Hotel menemukan nilai seni dan keindahan pada pakaian lama yang menunjukkan jejak pemakaian, menghadirkan perhatian khusus pada busana yang telah terpakai ketimbang yang baru. Siluet khas pakaian sehari-hari diberi sentuhan dan olahan baru yang personal, seperti celana pendek bermuda bermotif kamuflase, serta dominasi bahan denim yang dieksplorasi dengan detail raw, efek pudar, hingga aksen robekan yang distingtif pada atasan dan celana denim.

Cover Me Not Membawakan "Origins" dengan Semangat "Ocean Born, City Refined"

Koleksi 'Origins’ dari Cover Me Not

Label Cover Me Not, yang didirikan oleh Kelly Tandiono, berkolaborasi dengan Manta Liberta untuk mempersembahkan koleksi bertajuk “Origins”. Mengusung narasi “Ocean born. City refined.”, koleksi ini menerjemahkan keindahan laut lepas dan jiwa pelaut nomaden ke dalam lanskap gaya hidup perkotaan yang modern. Panggung peragaan semakin semarak berkat kehadiran para muse ternama seperti Yoshi Sudarso—yang memukau penonton lewat aksi backflip saat melenggang—serta Brandon Salim dan Nirina Zubir. Koleksi ini menampilkan perpaduan dinamis antara busana renang, pakaian athleisure, serta busana transisional yang fungsional, mulai dari jumpsuit terusan, tracksuit dan celana pendek berbaju jersey ringan, hingga sports bra dan biker shorts dengan aksen garis kontras.

Lanivatti Membawa "Eastbound" dengan Kemewahan Perjalanan Kereta Api Abad Ke-20

Koleksi 'Eastbound' dari Lanivatti

Label Lanivatti membawakan koleksi bertajuk “Eastbound”, yang menarik inspirasi dari keanggunan awal abad ke-20 dan kemewahan tenang perjalanan kereta api bersejarah. Koleksi ini menangkap ritual berpakaian dalam perjalanan panjang melintasi kota dan lanskap, memadukan garis-garis bersih, bentuk geometris, serta detail yang dipoles rapi.

Terinspirasi dari jalur perdagangan historis di Asia, koleksi ini memadukan jaket bergaya safari, field coats, dan tailoring santai dengan gaun mengalir serta siluet balon yang fluid. Brokat India berpadu harmonis dengan sutra serta jacquard Cina, dilengkapi linen, katun, Tencel, dan tekstur alami lainnya. Palet warna kaya seperti saffron, cinnamon, cinnabar, indigo, dan jade berpadu dengan tobacco, sand, parchment, dan hitam, sementara aksen jumbai memberikan gerakan yang melembutkan siluet terstruktur. 

PEAU Memperkenalkan "Y NOT" Lewat Eksplorasi Ketegangan, Tekstur, dan Transformasi

Koleksi 'Y NOT' dari PEAU

Label PEAU di bawah arahan desainer Canesia Soekotjo mempersembahkan koleksi bertajuk “Y NOT”, yang lahir dari kerinduan yang muncul saat perjalanan mencari jati diri sang desainer. Melalui 12 look yang mempertemukan kekuatan dan kerentanan, PEAU mengeksplorasi material kulit ikoniknya yang dipadukan dengan renda transparan, menciptakan ketegangan visual antara proteksi dan keterbukaan.

Koleksi ini diperkaya dengan kehadiran studs, fringe, warna perak, dan buckle, serta didominasi warna hitam yang diberi interupsi emosional melalui dua tampilan berwarna merah. Pementasan ini semakin imersif berkat kolaborasi audio bersama duo beatbox internasional MADTWINZ, tata rias oleh Qiqi Franky, serta arahan gerak bersama Andhika Dharmapermana, yang menghadirkan pengalaman multidimensi yang merayakan kebebasan untuk terus tumbuh dan menjadi diri sendiri.