Menjelajahi Batas Kreativitas Melalui Pertukaran Mode Indonesia dan Australia di JFW 2027
Pertemuan budaya Indonesia dan Australia menemukan ruang ekspresinya di panggung Jakarta Fashion Week 2027 melalui “Australia–Indonesia Creative Exchange Showcase”. Didukung oleh Kedutaan Besar Australia, panggung ini menghadirkan Studio Jeje, ANW, dan SHIYO, presentasi ini mempertemukan beragam perspektif desain yang berangkat dari latar budaya berbeda, tetapi memiliki ruang untuk saling menginspirasi.
Membuka rangkaian peragaan, RMIT School of Fashion and Textiles turut menampilkan karya dari Cuong Nguyen dan Stella Reardon. Melalui eksplorasi siluet, material, dan pendekatan artistik, keseluruhan presentasi menjadi perayaan kreativitas yang melintasi batas geografis.
RMIT School of Fashion and Textiles
Membuka peragaan dengan perspektif yang beragam, RMIT School of Fashion and Textiles menghadirkan dua pendekatan desain melalui menswear karya Cuong Nguyen dan womenswear karya Stella Reardon. Cuong Nguyen mengeksplorasi perpaduan struktur klasik dan proporsi eksperimental, sementara Stella Reardon bermain dengan siluet bervolume serta komposisi warna yang ekspresif.
Pada lini menswear, luaran berpotongan panjang, rompi, dan jaket berstruktur berpadu dengan bawahan longgar dalam palet cokelat tanah, abu-abu, krem, dan hitam. Sementara itu, busana wanita menghadirkan rok bervolume, atasan longgar, serta luaran menyerupai jubah dalam paduan hijau mint, ungu, merah muda, dan kuning.
Meski berangkat dari pendekatan berbeda, keduanya sama-sama memperlihatkan keberanian dalam mengolah bentuk dan karakter material. Permainan tekstur, detail dekoratif, serta komposisi yang tidak konvensional menjadi ruang eksplorasi bagi kedua desainer dalam menerjemahkan perspektif personal terhadap mode kontemporer.
Studio Jeje
Berangkat dari kekayaan budaya Peranakan Pesisir, Studio Jeje mempersembahkan “Buketan”, koleksi 15 tampilan yang mempertemukan kelembutan kebaya dengan ornamen batik pesisir serta kekayaan flora dan fauna Australia. Terinspirasi dari motif buketan berupa rangkaian bunga yang telah lama hadir dalam tradisi batik pesisir, koleksi ini merayakan karakter budaya yang terbuka terhadap berbagai pengaruh.
Melalui arahan desain Angelita Nurhadi, kebaya ditafsirkan kembali lewat pengolahan siluet, proporsi, dan detail yang lebih kontemporer. Eksplorasi tersebut berpadu dengan batik tulis pesisir hasil kolaborasi bersama Batik Rosethree, yang menghadirkan interpretasi motif buketan melalui flora dan fauna Australia.
Nuansa warna bumi khas pesisir dengan aksen bang biron diperkaya oleh tekstur, bordir, manik-manik, dan detail tiga dimensi. Perhiasan serta hairpiece dari EPA Jewel melengkapi koleksi melalui ornamen yang terinspirasi dari pengaruh Asia Timur, namun tetap berakar pada estetika Indonesia.
ANW
Melalui koleksinya, ANW mengeksplorasi hubungan antara material, tekstur, dan bentuk melalui permainan lapisan serta teknik draping. Kain transparan berpadu dengan material bertekstur, menciptakan siluet ringan yang mengikuti gerak tubuh. Potongan asimetris dan detail menjuntai turut memberikan dinamika pada setiap tampilan.
Palet warna abu-abu, cokelat tanah, jingga, dan merah muda lembut membangun karakter visual yang hangat. Permukaan berkerut, detail floral, serta aplikasi kain menerawang yang disusun bertumpuk menghadirkan kekayaan tekstur yang menjadi daya tarik tersendiri.
Permainan proporsi terlihat melalui perpaduan atasan berpotongan sederhana dengan bawahan bervolume. Lewat pendekatan tersebut, ANW memperlihatkan bagaimana eksplorasi material dan konstruksi dapat melahirkan bentuk-bentuk baru yang terasa ringan sekaligus ekspresif.
SHIYO
Membawa perspektif dari Australia, SHIYO menghadirkan eksplorasi mode dengan karakter avant-garde yang kuat. Dominasi hitam dan abu-abu berpadu dengan aksen perak metalik, sementara potongan asimetris dan konstruksi berlapis menciptakan siluet yang dramatis.
Eksplorasi bentuk terlihat melalui gaun pendek dengan rok bervolume, atasan berpotongan terbuka, hingga jaket berstruktur yang dipadukan dengan bawahan longgar. Salah satu tampilan mencuri perhatian melalui susunan material metalik menyerupai kepingan-kepingan tidak beraturan, menghadirkan tekstur yang menyerupai lapisan pelindung.
Karakter eksperimental koleksi semakin terasa melalui penataan rambut yang menyerupai tanduk, riasan mata dramatis, serta sepatu bot tinggi dengan sol tebal. Keseluruhan elemen tersebut membangun identitas visual yang berani, memperlihatkan mode sebagai medium ekspresi yang melampaui fungsi berpakaian.
Pada panggung “Australia–Indonesia Creative Exchange Showcase”, Jakarta Fashion Week 2027 membuka ruang bagi pertemuan gagasan kreatif lintas negara. Dari interpretasi ulang warisan kebaya dan batik pesisir oleh Studio Jeje hingga eksplorasi bentuk dan material dari ANW serta SHIYO, setiap desainer membawa perspektif yang berbeda. Sebuah pertemuan yang memperlihatkan bahwa tradisi dan inovasi dapat berjalan beriringan, sekaligus membuka kemungkinan baru bagi perkembangan mode di kawasan.
Leave a Reply