Satu Dekade KOCCA di JFW, Menelusuri Jejak Kolaborasi Mode Indonesia dan Korea Selatan

Satu dekade di dunia mode menyimpan banyak cerita tentang pertukaran gagasan dan perspektif, serta identitas kreatif yang menemukan ruang untuk dikenal lebih luas. Sejak 2016, Jakarta Fashion Week (JFW) bersama Korea Creative Content Agency (KOCCA) dan Council of Fashion Designers of Korea (CFDK) telah mempertemukan desainer Korea Selatan dengan audiens Indonesia melalui koleksi yang merefleksikan keberagaman karakter mode kontemporer.

Dalam kurun waktu tersebut, sebanyak 17 desainer Korea Selatan telah mempersembahkan koleksi mereka di panggung JFW. Pertukaran ini juga membuka jalan bagi 15 desainer Indonesia untuk membawa karya mereka ke pergelaran Fashion KODE yang diselenggarakan oleh KOCCA di Seoul. Lebih dari sekadar pertemuan di atas runway, kolaborasi ini menjadi ruang bagi pelaku mode lintas budaya untuk saling mengenal.

Menandai satu dekade KOCCA di JFW, mari menilik kembali sejumlah momen yang membentuk perjalanan ini, dari awal perkenalan hingga babak terbaru yang menanti di panggung Jakarta.

Menilik Kembali Ragam Perspektif di Runway

Pada tahun-tahun awal, kehadiran desainer Korea Selatan memperkenalkan beragam pendekatan desain kepada audiens JFW. SYZ dan ROYAL LAYOR, yang berpartisipasi dalam JFW 2019, menghadirkan karakter berbeda melalui koleksi masing-masing. SYZ mengolah warna-warna alam dan material ringan menjadi siluet feminin, sementara ROYAL LAYOR mengeksplorasi konstruksi kain melalui potongan yang lebih ekspresif.

Memasuki JFW 2020, SEOKWOON YOON memadukan pengaruh seni modern dengan energi gaya hidup Brooklyn melalui koleksi ‘Nothing Inside’. Sementara itu, SETSETSET mengambil inspirasi dari simbol dan tradisi Korea, menerjemahkannya ke dalam busana dengan karakter feminin dan sporty. Referensi yang berbeda ini memperlihatkan bagaimana identitas desain dapat tumbuh dari berbagai sumber, baik pengalaman personal maupun latar budaya.

Setelah kembali hadir pada JFW 2023, kolaborasi KOCCA mempertemukan dua pendekatan yang kontras melalui DOUCAN dan SAINT EGO. DOUCAN mengangkat keindahan alam bawah laut dalam koleksi ‘Underwater Garden’, sedangkan SAINT EGO mengeksplorasi estetika avant-garde melalui pendekatan streetwear yang lebih eksperimental.

Pada JFW 2024, perhatian beralih pada ekspresi diri dan keberlanjutan. LIE by Lee Chung Chung menghadirkan permainan siluet dan gradasi warna melalui koleksi ‘Time Between Dogs and Wolves’, sementara Vegan Tiger memadukan elemen fairycore dan gaya koboi dalam koleksi ‘Rewilding’, dengan perhatian terhadap material yang lebih ramah lingkungan.

Memasuki JFW 2026, KUMÉ dan MONTSENU kembali memperkaya lanskap tersebut. KUMÉ mengeksplorasi estetika countrycore dan bohemian, sedangkan MONTSENU menghadirkan siluet bervolume dan permainan tekstur yang lebih eksperimental. Keduanya menjadi bagian terbaru dari rangkaian perspektif desain yang telah hadir di Jakarta selama satu dekade.

Jika ditarik sebagai satu rangkaian, koleksi-koleksi ini memperlihatkan keberagaman yang menjadi ciri perjalanan KOCCA di JFW. Setiap jenama membawa bahasa visualnya sendiri, mempertemukan inspirasi, teknik, dan gagasan yang berbeda di satu panggung. Dari sinilah kilas balik satu dekade ini menemukan maknanya: bukan sekadar mengenang koleksi yang pernah tampil, tetapi melihat bagaimana ruang kreatif terus terbuka bagi perspektif baru.

Ketika Kolaborasi Melampaui Runway

BLANC STUDIO di Fashion KODE, Seoul (Courtesy of BLANC STUDIO)

Seiring berjalannya waktu, pertukaran KOCCA dan JFW juga berkembang ke arah yang lebih luas. Melalui Fashion KODE di Seoul, desainer Indonesia memperoleh kesempatan untuk memperkenalkan karya mereka kepada audiens Korea Selatan. Jan Sober, BLANC STUDIO, MORAL, Tanah Le Saé, dan masih banyak lagi, menjadi bagian dari jenama Indonesia yang pernah tampil di panggung tersebut.

Kesempatan ini membawa makna yang berbeda bagi setiap desainer. Selain memperluas jangkauan audiens, pertemuan lintas negara membuka ruang untuk membangun koneksi profesional, mengenal karakter pasar, dan menjajaki peluang kerja sama. Runway menjadi titik awal, sementara pertukaran pengetahuan dan hubungan industri memberi kesempatan bagi kolaborasi untuk berlanjut di luar pergelaran.

Dengan 17 desainer Korea Selatan yang telah tampil di JFW dan 15 desainer Indonesia yang berpartisipasi di Fashion KODE, satu dekade ini merekam pertukaran yang berjalan dua arah. Keduanya memperoleh ruang untuk memperkenalkan identitas kreatif masing-masing, sekaligus melihat bagaimana karya mereka dapat diterima dalam konteks budaya dan pasar yang berbeda.

Menantikan Bab Berikutnya di JFW 2027

Perayaan satu dekade KOCCA di JFW berlanjut pada Jakarta Fashion Week 2027, yang berlangsung pada 26 Oktober hingga 1 November 2026 di City Hall, Pondok Indah Mall 3. Tahun ini, KOCCA x JFW 10th Anniversary Runway akan menghadirkan KIMOUI dan VALOREN pada 1 November 2026.

Kehadiran kedua jenama Korea Selatan tersebut menjadi bagian terbaru dari cerita yang telah dibangun selama sepuluh tahun. Setelah mempertemukan begitu banyak karakter dan pendekatan desain, perayaan ini membuka kesempatan untuk kembali mengenal perspektif kreatif Korea Selatan melalui koleksi yang akan dibawa ke panggung Jakarta.

Lebih jauh lagi, satu dekade KOCCA bersama JFW mengundang kita untuk melihat kemungkinan yang masih terbuka bagi pertukaran kreatif Indonesia dan Korea Selatan. Koneksi yang telah terbangun dapat menjadi fondasi bagi pertemuan baru, jangkauan pasar yang lebih luas, dan kesempatan kolaborasi yang terus berkembang.

Di balik setiap koleksi yang hadir di runway, ada perspektif yang diperkenalkan dan cerita yang dibagikan. Selama sepuluh tahun, KOCCA bersama JFW telah menjadi salah satu ruang bagi cerita-cerita tersebut untuk melintasi batas negara, mempertemukan karakter mode Indonesia dan Korea Selatan dalam dialog yang terus berkembang. Tahun ini, dialog itu kembali berlanjut, membawa kemungkinan baru bagi kedua industri untuk saling mengenal lebih dekat