Menafsir Warisan dan Identitas Bersama  Il Teatro Della Moda Indonesia dan SCARF Media 

Membicarakan warisan tak pernah menemukan ujungnya. Dalam dunia mode maupun dalam konteks yang lebih luas, legacy senantiasa hadir di antara manusia menghidupi ingatan, menginspirasi langkah, dan menyalakan semangat untuk terus berkarya. Di Centerstage Jakarta Fashion Week 2026, makna warisan itu menemukan bentuknya dalam dua talkshow yang sarat refleksi: Il Teatro Della Moda Indonesia (ITDM) dengan tema Legacy in Italian Fashion, serta SCARF Media bersama Islamic Fashion Institute melalui diskusi How Culture Shapes Our Perception of Modesty

Berlangsung pada 30 Oktober 2025, dua sesi ini seolah berdialog satu sama lain, menelusuri jejak masa lalu untuk memahami masa kini, sambil merancang arah masa depan. Keduanya memperlihatkan bahwa mode bukan sekadar busana ia adalah jembatan antara tradisi dan inovasi, antara akar budaya dan ekspresi kontemporer.

Pada sesi Il Teatro Della Moda Indonesia, perbincangan berawal dari diskusi terhadap mengapa Italia memiliki otoritas untuk berbicara tentang legacy. Oleh moderator Arfian Rama, seorang dosen mode, hal ini dikaitkan dengan periode Renaissance di Italia, masa di mana seni, sains, dan mode berkembang pesat sebagai wujud pencerahan manusia. Dari semangat itu lahir warisan desain dan filosofi yang masih hidup hingga kini. Bentuk zimara, kerah tinggi, serta potongan rompi adalah interpretasi dari nilai klasik yang terus menginspirasi modest wear modern.

Nama-nama besar seperti Gianni Versace dan Miuccia Prada menjadi simbol bagaimana legacy bukan sekadar kenangan, tetapi kesinambungan visi. Versace menjaga warisan desain Italia dalam lingkup keluarga, sementara Prada mengubah persepsi tentang keindahan melalui bahan nylon yang dulunya dianggap sederhana. Dalam tangan para desainer ini, masa lalu menjadi jalan menuju masa depan, bukan beban yang menahan langkah.

Dalam sesi talkshow tersebut, dua murid dari ITDM turut berbagi pandangan tentang bagaimana warisan memengaruhi cara mereka melihat dan mencipta. Arvin Keisan, misalnya, menemukan inspirasinya pada siluet korset khas tradisi Eropa, bentuk yang baginya menggambarkan struktur perempuan yang kokoh. Sementara itu, Bianca Zoandevy memaknai legacy dengan cara yang lebih filosofis: sebagai nilai dan spiritualitas yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ia menyalurkan pemahaman itu melalui karya yang terinspirasi oleh konsep impermanence, kesadaran bahwa segala sesuatu di dunia ini bersifat sementara, dalam siluet-siluet menyerupai bentuk awan. 

Arfian Rama, Arvin Keisan dan Bianca Zoandevy dalam talkshow oleh Il Teatro Della Moda Indonesia

Sementara itu, sesi How Culture Shapes Our Perception of Modesty bersama Temi Sumarlin dari SCARF Media membuka percakapan tentang bagaimana modest fashion di Indonesia tumbuh di persimpangan antara nilai budaya dan modernitas. Berdiri sejak 2011 dan menjadi mitra Jakarta Fashion Week sejak tahun pertamanya, SCARF Media telah berperan penting dalam membentuk wacana modest fashion sebagai gaya hidup yang menonjolkan kesopanan, bukan semata ekspresi religius.

Modesty bukan sekadar busana muslim, namun tentang kesantunan, sebuah budaya dan legacy yang bisa kita bawa secara globa, di eropa pun saat musim dingin orang-orang berbusana modest melalui layering” ujar Temi. Ia menekankan pentingnya memandang budaya bukan hanya melalui kain, motif, atau busana adat, melainkan juga lewat perilaku dan nilai-nilai ketimuran. 

Temi Sumarlin dari SCARF Media membahas How Culture Shapes Our Perception of Modesty.

Temi juga bercerita tentang pengalamannya saat riset baru-baru ini di Sumatra Barat. Di sana ia menemukan banyak teknik bordir khas yang mulai hilang, suatu hal yang membuatnya berefleksi dan semakin tergerak untuk menekankan pentingnya melestarikan suatu warisan. “Kalau generasi muda tidak menggali, semuanya bisa punah. Rasa cinta pada negeri ini lah yang seharusnya menggerakan kita.” katanya.

Menurut Temi, digitalisasi juga berperan besar dalam membuka pintu riset dan promosi bagi wastra atau pun modest fashion Indonesia yang justru sudah mulai menjadi pusat perhatian dunia. Namun di tengah derasnya arus global, ia juga menegaskan pentingnya menjaga arah dan identitas dan nilai-nilai di balik tren. 

Suasana talkshow diramaikan dengan kehadiran awak media

Dari dua panggung ini, warisan tidak hanya terlihat pada busana namun juga perbincangan dan pemikiran dibaliknya yang terus membuka dialog antara tradisi dan modernitas. Baik dari warisan Italia yang abadi maupun dari semangat modest fashion Indonesia yang terus berevolusi, keduanya sama-sama menunjukkan bahwa mode bukan sekadar soal pakaian, tetapi tentang memahami siapa kita dan dari mana kita berasal.

Dapatkan info terkini seputar pergelaran Jakarta Fashion Week 2026 di situs ini, juga bisa klik media sosial resmi Jakarta Fashion Week berikut ini: Instagram, Facebook, TikTok, Twitter, dan Pinterest. (JFW)