Saat Romantisisme Menemukan Struktur dalam Ragam Koleksi JFW 2026
Kelembutan tidak selalu berarti rapuh. Di Jakarta Fashion Week 2026, material tulle, chiffon, organza, ruffles, hingga bunga justru menemukan karakter baru ketika dipadukan dengan korset, aksentuasi di bagian bahu, tailoring presisi, dan siluet arsitektural. Gaya romantis kini melampaui citra feminin yang serba lembut, membuka ruang bagi siluet yang lebih berani dan berkarakter.
Pertemuan tersebut hadir dalam berbagai rupa di panggung runway. Mulai dari eksplorasi tentang perempuan dan pertumbuhan personal hingga reinterpretasi kebaya, permainan material, dan gagasan tentang regenerasi, enam desainer berikut memperlihatkan bahwa kelembutan dan kekuatan dapat berkembang dari satu bahasa yang sama.
Ingrid Husodo & Christin Wu
Pada peragaan BTN Dewi Female Forward, Ingrid Husodo dan Christin Wu mempersembahkan ‘Symbiosa: Sacred Union’, sebuah dialog tentang kekuatan dan kelembutan perempuan. Lewat ‘Unwritten Poetry’, Ingrid bermain dengan palet putih, beige, merah muda, dan frozen blue, membungkus chiffon, organza, dan tulle dalam lapisan ruffles yang ringan dan mengalir.
Lewat alas kaki ‘Symbiosa’, Christin Wu menerjemahkan makna pertumbuhan. Perpaduan kulit, mutiara air tawar, dan aplikasi bunga tampil dalam warna merah, kuning, merah muda, dan hijau, merayakan ikatan serta dukungan yang membuat seseorang terus berkembang.
Sebastian Gunawan Signature
Koleksi ‘Kembang Jiwa’ dari Sebastian Gunawan Signature memperlihatkan kebaya dalam siluet yang lebih tegas. Bahu arsitektural, korset, kerah lipat, dan lekukan presisi dimanifestasikan pada ragam tampilan batik serta kebaya. Perpaduan ini menghadirkan tafsir baru atas wastra Indonesia dalam bahasa adibusana modern.
Di antara struktur yang kuat, draping memberi kelembutan pada keseluruhan tampilan. Warna berani dan mengilap serta aksen tailoring mempertemukan kemewahan, tradisi, dan impresi kontemporer dalam harmoni.
TANGAN Privé
Untuk Dewi Fashion Knights, TANGAN Privé memberi kebaya karakter yang glamor melalui warna metalik dan kekayaan tekstil Nusantara. Material transparan, songket Bali, bordir, payet, dan korset hadir dalam nuansa ungu, emas, sampanye, hingga merah.
Kebaya brokat, baju kurung, korset pengantin, dan mantel satin hadir dalam bentuk yang lebih modern. Detail tenun dan songket perak menambah tekstur pada siluet yang nyaris arsitektural, mempertemukan kemewahan masa kini dengan sentuhan tradisi.
ANW
Melalui ‘Chāyā ca Jara’ dalam The Revelation of Glow, ANW melihat romantisisme dari perspektif yang lebih tak terduga. Astrid Nadia Wiradinata dan Ilaine Prasetyo menciptakan efek kain yang seolah menua melalui pewarnaan tangan yang tidak merata dan efek oksidasi yang menyerupai logam.
Bordir bunga yang halus memberi kontras pada tekstur kain yang penuh karakter. Dengan siluet yang mudah dikenakan, koleksi ini mengajak sang pemakai untuk melihat keindahan pada perubahan dan jejak waktu.
Danjyo Hiyoji
‘The Aftermath’ dari Danjyo Hiyoji, yang tampil dalam pergelaran Infinix Fragment of Anomaly, membawa elemen romantis ke arah yang lebih teatrikal. Tulle, fringe lebar, dan aplikasi bunga berkelopak empat hadir dalam palet krem, hitam, dan putih.
Pada beberapa tampilan, fedora menjadi aksen yang memperkuat karakter koleksi. Di tangan sang desainer Dana Maulana, bunga tumbuh menjadi aksen yang dramatis, bebas, dan penuh kepribadian.
Rinda Salmun
Dalam ‘Resonance’, Rinda Salmun menemukan keindahan melalui material yang pernah ditinggalkan. Sebanyak 40 kilogram limbah tekstil dan 160 potong pakaian diselamatkan dari landfill, kemudian direkonstruksi dan ditenun kembali menjadi koleksi yang berbicara tentang keberlanjutan dan regenerasi.
Palet lilac, pink muda, hijau lemon, dan biru telur asin hadir dalam shirt dress dengan aksen draping, blazer ruffles, serta outerwear bersiluet longgar. Di antara kelembutan dan struktur tersebut, ‘Resonance’ menyampaikan satu gagasan sederhana: sesuatu yang tidak sempurna tetap dapat memiliki kehidupan baru.
Romantisisme tak melulu hadir lewat kelembutan yang ringan. Pergelaran JFW 2026 menampilkan gaya romantis dengan garis yang lebih tegas, volume yang lebih berani, dan detail yang meninggalkan kesan. Sisi feminin ternyata punya banyak wajah, dan setiap wajahnya layak mendapat sorotan.
Leave a Reply