Dari Minimalis hingga Eksperimental, Ragam Gaya Generasi Muda di JFW 2027
Gaya anak muda tak pernah berhenti pada satu definisi. Ada yang memilih siluet minimalis dan potongan yang elegan, sementara yang lain bereksperimen dengan permainan tekstur, motif, hingga padu padan yang lebih berani. Dari pilihan-pilihan tersebut, busana menjadi ruang untuk mengeksplorasi karakter sekaligus menemukan cara mengekspresikan diri.
Perspektif yang beragam ini hadir melalui Drunk Dad, Sabamodest, Shop at Velvet, dan Morteils dalam FashionLink YOU-NG THING persembahan dari BTN di Jakarta Fashion Week 2027. Keempat label membawa ciri khas masing-masing, mulai dari romantisme yang lahir melalui eksplorasi material hingga streetwear dengan sentuhan eksperimental, memperlihatkan luasnya interpretasi gaya generasi muda masa kini.
Drunk Dad
Melalui “Real Fantasies”, Drunk Dad mempertegas identitas desainnya lewat eksplorasi material yang kontras. Koleksi ketiganya ini terdiri dari 12 set busana, delapan untuk wanita dan empat untuk pria, dengan gagasan lightness sebagai titik berangkat.
Katun poplin dan sutra duchess yang lembut berpadu dengan jacquard dan suede yang lebih kaku. Perbedaan tekstur tersebut menciptakan siluet yang ringan sekaligus terstruktur, menghadirkan romantisme dengan karakter yang lebih tegas.
Presentasi turut dilengkapi sepatu dan tas dari Grandkids, anting dari One, kacamata dari Optik Seis, serta lini sepatu suede Drunk Dad yang belum dirilis untuk tampilan pria.
Sabamodest
Bagi Sabamodest, kesederhanaan menjadi landasan untuk menciptakan busana yang relevan dengan keseharian. Didirikan oleh Rani Hatta pada 2018, label ini menggabungkan desain modest yang praktis dengan perhatian terhadap kualitas material dan kenyamanan.
Koleksi Spring/Summer 2027 menghadirkan 14 tampilan dalam palet hitam dan putih. Coat, jaket, kemeja, rok, dan celana hadir melalui siluet longgar, material bertekstur alami, serta kain transparan dan ringan yang sesuai untuk iklim tropis.
Permainan layering, aksen ikatan, dan potongan tailored memberikan dimensi tanpa menghilangkan kesan bersahaja. Melalui koleksi ini, Sabamodest memperlihatkan bahwa modest fashion dapat terasa modern melalui ketepatan proporsi dan detail yang terukur.
Shop at Velvet
Hal-hal sederhana kerap membentuk cara seseorang berpakaian, mulai dari karya seni yang menarik perhatian hingga busana yang terus menjadi pilihan. Gagasan tersebut melandasi “Private Hours”, koleksi Fall/Winter 2026 dari Shop at Velvet yang mempertemukan mode, seni, dan keseharian dalam pendekatan yang personal.
Terinspirasi oleh keanggunan busana Eropa dan atmosfer ruang seni, koleksi ini mengedepankan siluet elegan dengan permainan proporsi yang cermat. Potongan tailoring rileks, volume yang terukur, dan garis memanjang berpadu dengan palet warna berupa nuansa netral, cokelat tembakau, biru tinta, abu-abu arang, hingga oxblood.
Alih-alih mengejar tampilan yang terasa terlalu sempurna, “Private Hours” merayakan busana yang tumbuh bersama pemakainya. Variasi tekstur dan pilihan warna menghadirkan karakter tanpa kesan berlebihan, mengingatkan bahwa keanggunan dapat ditemukan dalam potongan yang sederhana dan terus dikenakan dari waktu ke waktu.
Morteils
Morteils membawa pendekatan eksperimental ke dalam streetwear melalui perpaduan busana kasual dan siluet yang tidak konvensional. Kaos grafis dan atasan berpotongan longgar menjadi dasar koleksi, sementara detail asimetris serta padu padan yang kontras memberikan karakter pada setiap tampilan.
Palet hitam, abu-abu, dan biru berpadu dengan aksen warna yang lebih mencolok. Rok bermotif kotak-kotak dengan potongan menjuntai, hingga jaket berkarakter, memperlihatkan bagaimana elemen sehari-hari dapat diolah menjadi tampilan yang lebih ekspresif.
Permainan proporsi dan tekstur semakin menegaskan karakter koleksi, dilengkapi aksesori kacamata serta penataan gaya yang berani. Naykilla turut berjalan di runway dalam presentasi Morteils di Jakarta Fashion Week 2027, melengkapi eksplorasi streetwear yang memberi ruang bagi ekspresi personal.
Melalui FashionLink YOU-NG THING persembahan dari BTN, keempat label memperlihatkan bahwa karakter dalam berpakaian dapat hadir melalui pendekatan yang beragam. Setiap koleksi menawarkan cara tersendiri dalam memaknai busana. Perbedaan tersebut menjadi pengingat bahwa gaya personal tidak selalu mengikuti satu arah, melainkan tumbuh dari pilihan, karakter, dan cara setiap individu mengekspresikan dirinya.
Leave a Reply