Mengenal 8 Finalis LPMM 2026: Menuju Jakarta Fashion Week 2027
Rangkaian seleksi dan penjurian Lomba Perancang Mode Menswear (LPMM) 2026 telah rampung dan delapan perancang muda resmi ditetapkan sebagai finalis yang akan melaju ke panggung Jakarta Fashion Week 2027. Delapan finalis terpilih tersebut adalah Alifa Muthmainnah, Andrean Nuur Ramadhan, Desi Dwi Lestari, Feby Adhitya Permana, I Kadek Krisna Dwipayana, Karel Karuniawan, Rifki Daelami, dan Saifudin Aulya Akhsan.
Melalui tema “Modern Archetype”, LPMM 2026 menantang para peserta untuk memilih satu arketipe dasar sebagai titik awal, kemudian mengolah dan menerjemahkannya melalui perspektif desain masing-masing. Sejak proses seleksi dimulai pada Mei 2026, sebanyak 128 peserta telah melalui serangkaian tahap penjurian untuk memperebutkan tempat sebagai finalis.

Pada penjurian semifinal, 128 peserta tersebut dikerucutkan menjadi 20 nama yang kemudian melanjutkan proses ke tahap penjurian final. Di hadapan panel juri yang terdiri dari Andandika Surasetja, Rama Dauhan, Jan Angga, Ajeng Svastiari, dan Lisa Malonda, karya para peserta dinilai berdasarkan tiga kriteria utama, yaitu keunggulan teknik, inovasi material, dan kekuatan narasi konseptual. Kualifikasi inilah yang menentukan delapan perancang untuk melaju sebagai finalis LPMM 2026. Sesi penjurian ini turut didukung oleh Yellowfit Kitchen x Mr Isshi dan Flash Coffee.
Delapan finalis LPMM 2026 kini bersiap membawa interpretasi kontemporer atas arketipe busana pria ke panggung Jakarta Fashion Week 2027. Berikut delapan nama yang akan menampilkan kreasi mereka pada bulan Oktober mendatang.
Mengenal 8 Finalis LPMM 2026
Feby Adhitya Permana: “Faun by Moonlight”
Lukisan Léon Spilliaert yang berjudul Faun by Moonlight (1900) menjadi sumber inspirasi bagi Feby Adhitya Permana yang mengangkat cerita tentang keberanian untuk menjadi diri sendiri. Berangkat dari setelan jas yang kerap diasosiasikan dengan struktur dan disiplin, Feby mentransformasikan koleksi ini lewat pemilihan siluet dan material yang lebih ringan. Hasilnya adalah kreasi yang memberi keleluasaan pada tubuh. Kain lurik bermotif hujan dipertemukan dengan material twill dan rib knit, memadukan unsur tekstil Nusantara ke dalam pendekatan kontemporer.

Karel Karuniawan: “Endure”
Observasi Karel Karuniawan terhadap tekanan dan perubahan yang mewarnai kehidupan menjadi awal dari “Endure”. Lanskap gurun yang padat menjadi referensi untuk membangun gagasan mengenai konsep proteksi melalui permainan layer, draperi, dan volume. Palet bak pasir dipertemukan dengan biru elektrik sebagai simbol keberanian dan ketangguhan, meskipun dalam keadaan terdesak. Manifestasinya adalah koleksi bermaterialkan katun jersey, fleece, serta ragam tipe wol untuk mempertahankan kenyamanan dan karakter dari masing-masing tampilan.

Alifa Muthmainnah: “The Odd One Out of Time”
Koleksi “The Odd One Out of Time” karya Alifa Muthmainnah mengangkat busana pria sebagai ruang pertemuan antarkultural. Terinspirasi oleh pengalaman komunitas Indonesia di masa kolonial, karya ini mempertemukan jahitan beskap Jawa dengan gaya elit Barat dari era 50-an—seperti blazer dan seragam—yang kala itu melambangkan kemaskulinan dan strata sosial. Kedua dunia yang tampak bertolak belakang ini dipadukan melalui rekonstruksi pola sehingga lahirlah rancangan hibrida yang terlihat dari konstruksi melingkar, permainan siluet pada bagian lengan, teknik layering, hingga detail yang dapat dilepas-pasang. Dengan material wol, kulit, katun, denim, dan korduroi, koleksi ini menciptakan keseimbangan antara struktur yang tegas dan aliran yang lembut, merayakan identitas tanpa kehilangan akar budaya.

Andrean Nuur Ramadhan: “JEJAK”
Melalui “JEJAK”, Andrean Nuur Ramadhan membawa elemen budaya Jawa, khususnya beskap dan blangkon, keluar dari konteks formal dan sakral. Keduanya menjadi titik awal bagi busana pria urban yang dikembangkan melalui rekonstruksi, permainan volume, serta teknik wash out pada denim. Efek pudar yang dihasilkan menjadi representasi perjalanan dan perubahan waktu, sementara detail piping membentuk garis yang merujuk pada langkah dan pergerakan. Keseluruhannya diarahkan pada sosok urban kreatif dengan identitas yang terus berkembang.

Rifki Daelami: “Student Archive: His Memory Project”
Memori tentang Hollandsch-Inlandsche School (HIS) menjadi titik berangkat Rifki Daelami dalam “Student Archive: His Memory Project”. Kesederhanaan pakaian dan keterbatasan palet warna pada masa tersebut ia lihat kembali melalui sudut pandang masa kini. Referensi berupa bangunan yang menua hingga buku-buku yang lapuk diterjemahkan ke dalam detail kain yang sengaja dibiarkan tampak belum sempurna. Alih-alih mereplikasi masa lalu, Rifki mengolah jejak tersebut menjadi sebuah arsip memori dengan karakter yang lebih kontekstual untuk hari ini.
I Kadek Krisna Dwipayana: “After Ceremony”
“After Ceremony” berangkat dari pengamatan I Kadek Krisna Dwipayana terhadap kebutuhan manusia modern untuk memiliki jeda di tengah berbagai tekanan. Baginya, pemulihan dapat ditemukan melalui aktivitas sederhana, mulai dari melukis dan berenang hingga menikmati kopi atau berjalan di alam. Gagasan tersebut diterjemahkan melalui material alami seperti linen, rajutan tangan, dan tenun eco dye, yang diperkaya dengan patchwork serta embroidery. Koleksi ini membayangkan busana sebagai bagian dari momen ketika seseorang kembali memberi ruang bagi dirinya sendiri setelah kesibukan mereda.

Desi Dwi Lestari: “JALADRI”
Memori budaya masyarakat Jawa pesisir menjadi fondasi “JALADRI” karya Desi Dwi Lestari. Alih-alih mereplikasi busana tradisional, Desi mengambil karakter pelaut dan pekerja pelabuhan serta kehidupan kota pesisir sebagai referensi. Jejak Jawa kuno muncul melalui struktur kerah nan tegas dan lilitan asimetris, lalu dikembangkan menjadi siluet longgar dengan konstruksi semi-tailoring. Kulit, linen, katun sutra, washed denim, katun fleece, dan semi-wool diolah melalui potongan asimetris dan permainan layering untuk membangun karakter pria kontemporer yang tenang, berwibawa, dan adaptif.

Saifudin Aulya Akhsan: “Tumurun”
Saifudin Aulya Akhsan menempatkan Gedog Tuban sebagai titik awal “Tumurun”. Kain tradisional yang dahulu digunakan sebagai gendongan bernilai sosial tinggi tersebut dimaknai ulang sebagai arketipe dalam busana pria kontemporer. Teknik macramé menjadi elemen penting yang merepresentasikan hubungan antargenerasi dan pewarisan nilai, sementara cokelat, navy, hitam, dan abu-abu merujuk pada warna artefak kuno yang ditemukan di Tuban. Melalui pendekatan tersebut, fungsi macramé bergeser dari elemen dekoratif menjadi bagian dari narasi transformasi sebuah warisan ke dalam konteks menswear masa kini.

Selain menampilkan koleksi mereka di panggung Jakarta Fashion Week 2027 yang sekaligus menutup perjalanan LPMM 2026, kedelapan finalis juga bersaing memperebutkan satu gelar pemenang dan berhak mengikuti kursus singkat di POLIMODA, institusi mode ternama di Firenze, Italia.
Leave a Reply