News

Jurus Desainer Generasi Muda - BYO

Friday, 3 Aug 2018

by JFW

Era digital yang terbuka memberi peluang lebih banyak dan meluas bagi siapa pun yang ingin mengembangkan karier dan profesi setinggi-tingginya. Di dunia desain, geliat  ini begitu tampak. Namun begitu, persaingan juga makin ketat dan terbuka. Orisinalitas karya tetap menjadi kunci utama sebuah karya bisa dikenal dan bertahan. Desainer muda yang berasal dari berbagai inkubasi mode Femina Group ini optimistis bisa berkarya maksimal menggunakan semua kemudahan era ini.


Membuat tas yang bisa diapresiasi secara universal oleh konsumen dari banyak dari beragam selera dan latar belakang, adalah cita-cita terbesar Tommy Ambiyo Tedji, perancang aksesori di balik brand Byo. Apresiasi pertama yang didapatkan pada saat meluncurkan koleksi pertamanya di tahun 2010, terbilang sedang-sedang saja. Kala itu, tas Byo belum memiliki desain futuristik dengan teknik anyam canggih seperti yang terlihat sekarang. Tas yang diluncurkan pertama kali itu justru berupa tote bag dari bahan tyvek yang dijahit, seperti paperbag.

Pada awal peluncurannya, tas tyvek ini mendapatkan respon sangat baik, namun seiring berjalannya waktu, animo konsumen ternyata terus berkurang hingga penjualan mandek. Dari sinilah Tommy belajar bahwa masyarakat tak hanya mencari tren fungsional semata, tetapi juga menjunjung sisi estetis dan sustainability  pada produk  aksesori yang dibelinya, terutama tas.


Belajar dari kegagalan tersebut, Tommy mencari antitesis dari proses penciptaan dari karya pertamanya. Maka, tercetuslah impian menciptakan tas yang lebih sustainable dengan gaya rancang yang unik dan eksperimental. Akhirnya terpilih material PVC yang tebal, kaku, durable, dan lebih berstruktur dengan pola modular futuristis yang dirakit dengan cara anyam. Inilah yang menjadi DNA tas koleksi Byo yang mantap digarap hingga sekarang.

“Para desainer sekarang sadar bahwa ready to wear adalah masa depan bisnis, di mana idealisme menjadi aset terbesar. Pasar made-to-order akan selalu ada, tapi kepercayaan dan respek konsumen terhadap desainer Indonesia sekarang juga makin kuat,” ujarnya, mengapa ia memilih menapaki jalur desain ready to wear.

Sejak melansir koleksi anyamnya tahun 2014, Tommy terus mengembangkan teknik ini dalam bentuk berbeda-beda. Dirinya juga mendapatkan apresiasi dari dunia mode Indonesia berupa The Most Promising Accessories Designer (Cleo Fashion Awards - Jakarta Fashion Week 2016), JFW Fashion Entrepreneur Award (Jakarta Fashion Week 2017) dan Good Design Indonesia 2017 oleh Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, untuk desain warrior clutch-nya yang fenomenal. Selain apresiasi dari dalam negri, byo yang juga tergabung dalam Indonesia Fashion Forward berkesempatan memamerkan  produk di AQ Market - Paris Fashion Week 2016 dan mengikuti Los Angeles Fashion Week 2017 menampilkan koleksi Spring Summer 2018.

Belajar dari jatuh bangunnya dalam dunia rancang aksesori, terutama tas, Tommy berpegang pada passion yang selama ini ada di dalam dirinya, “Jika kita memang sangat menyukai sesuatu, selalu akan ada energi untuk terus bekerja,” ujarnya. Kini, Byo tak hanya menciptakan tas dan clutch, tetapi juga berkembang dengan mengeluarkan koleksi busana ready to wear wanita dengan DNA yang sama, yaitu PVC apparel, dengan desain yang futuristis dan unik.


Ikuti jejak Tommy Ambiyo. Jadilah desainer aksesori kontemporer yang inovatif melalui Lomba Perancang Aksesori (LPA) 2018!
Cek persyaratan selengkapnya & unduh formulir pendaftaran di sini
Kirimkan sketsamu sebelum 20 Agustus 2018.

 

___________________________________________________________________________________
TEKS: ARNI KUSUMADEWI. FOTO: DOK. INSTAGRAM,  DOK. THE THEME, DOK.FEMINAGROUP